Text
Bisma Dewabrata Ksatria Pendita dari Mahabrta
”Duhai Prabu Krisna, cucuku nggeeer, cucuku pujaan dunia,” seru Bisma kemudian. Dia lihat amarah Krisna sudah mulai reda. Kesadarannya sudah pulih. Tampak dari matanya yang tidak lagi menyala-nyala jelalatan. "Apa jadinya dengan serapah adindamu Bismasena? Yang hendak menggebuk Prabu Suyudana sampai 'hancur, sesudah mereka beradu gada?”
”Lalu terhadap Dursasana, yang hendak Bima robek-robek tubuhnya untuk dia reguh darahnya? Lalu Dewi Drupadi, yang bersumpah baru mau keramas hanya kalau dengan darah Dursasana?” sambung Bisma. ” Apa jadinya, andaikata sekarang ini Korawa, andika habiskan seorang diri? Tanpa menunggu sampai pecah Barata Yudha? Apa jadinya, coba?
Tidak sia-sia Bisma merayu. Krisna Tiwikrama tampak mendengarkan.
"Betul Krisna,” sambut Barata Narada. "Barata Yudha agaknya harus pecah. Usahamu mencegahnya sudah kami saksikan, wahai Krisna, dan andika memang gagal. Tetapi itu bukan berarti andika harus menebus dengan cara menghabiskan Korawa seorang diri. Sekarang ini pun. Tindakan andika itu nanti pasti menyalahi kodrat para Dewa, hai Krisna-ku. Padahal bukankah Krisna titisan Hyang Wisnu, Sang Bijak bestari?”
Luluhlah amarah Krisna. Sedikit demi sedikit kepala dan tubuhnya susut.
Raksasa sebesar bukit tadi itu kemudian kembali menjadi seperti sediakala. Mengecil dan makin kecil. Sampai sebesar ukuran sebelumnya. Matanya pun tidak lagi merah, dasarnya. Melainkan pulih hitam-putih. Sesudah kesadarannya kembali penuh, Krisna lalu menyembah...
| F00821 | 398.2 HOE b | Ruang Koleksi 300-399 (300-an) | Available |
No other version available