Text
Air Mata Tjitanduy
Sistem tanam paksa sudah ditinggalkan sejak 1860 karena menyebabkan kelaparan petani di tanah Jawa. Kebijakan ini berganti dengan sistem pertanian liberal yang memunculkan pengusaha-pengusaha swasta Beelanda pada pada awal-awal abad 20. Namun dalam praktiknya para pengusaha perkebunan bersama dengan para elite bangsawan daerah, raja-raja kecil, tetap mempertahankan cara tanam paks. Birokrasi penjajah dan elite bangsawan lokal bersengkokol dengan pengusaha partikelir tetap mengawetkan tanam paksa, yang menguntungkan mereka. Petani tetap diwajibkan menanam tanaman-tanaman wajib yang laku di pasaran ekspor, yang sudah tentu menguntungkan pengusaha dan elite bangsawan. Bahkan mereka tak segan - segan merebut tanah petani dengan berbagai cara. Berlatar di wilayah perbatasan Priangan dan Cilacap, Kisah ini menceritakan perjuangan petani mempertahankan mata pencahariannya. Langkah mereka membuka hutan (Trukah) untuk dijadikan sawah baru harus dibayar dengan darah dan airmata. Ki Madkusen dan anak-anaknyua tak cuma menghadapi para perampas tanah, tapi juga perjuangan untuk menghapus jejak sebagai orang Kalang.
| F00353 | 813 BAM a | Ruang Koleksi 800-899 (800-an) | Available |
No other version available