Text
Membuka Tirai Ghaib KRATON RATU KIDUL & GUNUNG SRIKANDI
Banyak persepsi dan pandangan yang negatif terhadap keberadaan Kraton Kanjeng Ibu Ratu Kidul Sekaring Jagad & Gunung Srandil yang menyimpan banyak misteri. Segala peristiwa yang terjadi di dua tempat tersebut selalu dijadikan kambing hitam, adalah “penguasa setempat”. Untuk itu penulis sebagai penganut Kejawen perlu meluruskan persepsi negatif tersebut dengan menulis buku. Buku ini membuka tirai kegaiban yang ada pada dua tempat sakral tersebut yaitu Kraton Kanjeng Ibu Ratu Kidul Sekaring Jagad & Gunung Srandil. Pemaparan terhadap keberadaan dua tempat tersebut berdasarkan kacamata “spiritual” khususnya ilmu “Kejawen”. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis mendalami “Kejawen” selama 40 tahun. Berdasarkan pengalaman spiritual penulis, memang benar bahwa di pantai laut Selatan itu ada “kerajaan” yang dipimpin oleh seorang ratu bernama Kanjeng Ibu Ratu Kidul Sekaring Jagad. Sedangkan Nyai Loro Kidul atau Nyi Roro Kidul merupakan Panglimanya. Dari sisi spiritual Laut Selatan sebagai lambang dari Pusat Kesejahteraan, karena keadaan disana sudah “sejahtera”. Hal ini dikisahkan bahwa disana terdapat bangunan-bangunan megah seperti dikawasan MH Thamrin Jakarta. Sedangkan dari sisi kenyataan atau “kasunyatan” hasil laut Selatan sangat banyak memberikan kesejahteraan bagi penduduk disepanjang pantai Selatan Jawa. Sedangkan Gunung Srandil merupakan sebuah bukit karang berada didekat pesisir pantai laut Selatan di desa Glempang Pasir, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap dan yang kemudian dikenal dengan sebutan Gunung Srandil. Gunung Srandil sebenarnya BUKAN tempat untuk mencari “pesugihan” ataupun “Klenik”. Namun merupakan petilasan semedi Eyang Kanjeng Sultan Agung pada waktu masih muda dan gagah perkasa, didalam tirakatnya mendapat petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk melakukan tirakatan disuatu tempat di bukit karang di dekat pantai laut Selatan tersebut, yang kemudian tempat itu disebut Gunung Srandil. Dikisahkan bahwa didalam semedinya, beliau Eyang Kanjeng Sultan Agung mendapat petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk membuat kalender Jawa dimulai dari bulan yang dinamai “Suro”. (At)
| NF00737 | 133 TJA m | Ruang Koleksi 100-199 (100-an) | Available |
No other version available